DAERAH

TNI/Polri Akademisi dan Pemda Kolaboratif Tangani Karhutla melalui Teknologi Pengelolaan Tanah Gambut

 

Porosindonesia.id.”Pontianak, 4 September 2026 — Penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memerlukan sinergi lintas sektor yang tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga pada pengelolaan dan pemulihan kondisi tanah. Dalam upaya tersebut, TNI, Polri, pemerintah daerah, akademisi, serta pemangku kepentingan terkait bersinergi mengembangkan pendekatan teknologi yang mengintegrasikan pemadaman kebakaran dengan pengelolaan tanah, salah satunya melalui pemanfaatan Bios 44 Patigeni.

 

Pendekatan ini diarahkan untuk mendukung penanganan karhutla secara lebih terpadu, dengan menggabungkan kesiapsiagaan personel, pemantauan lapangan, edukasi masyarakat, serta pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan karakteristik lahan, khususnya lahan gambut dan lahan terdampak kebakaran.

 

Pemanfaatan Bios 44 Patigeni dikembangkan sebagai bagian dari pendekatan teknologi tanah yang diarahkan untuk membantu proses pemadaman api sekaligus mendukung perbaikan kondisi dan struktur tanah. Dengan demikian, penanganan karhutla tidak berhenti setelah api padam, tetapi dilanjutkan melalui upaya pengelolaan lahan dan pencegahan kebakaran berulang.

 

Kolaborasi TNI, Polri, Akademisi, dan Pemerintah Daerah

 

TNI berperan dalam mendukung koordinasi, kesiapsiagaan, serta pemberdayaan wilayah melalui pendekatan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan. Polri mendukung pengamanan, pencegahan, edukasi, dan penegakan hukum terkait karhutla. Pemerintah daerah berperan dalam koordinasi penanggulangan bencana, pengelolaan wilayah, serta dukungan sumber daya.

BACA JUGA :   HUT desa Goa Boma Ke-38 dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati Bengkayang.

 

Sementara itu, akademisi memberikan kontribusi melalui kajian ilmiah, pengujian, dan evaluasi teknologi, sehingga penerapannya dapat disesuaikan dengan karakteristik tanah, kondisi lahan, serta kebutuhan penanganan di lapangan.

 

Kolaborasi ini menjadi penting karena penanggulangan karhutla membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari pencegahan, deteksi dini, pemadaman, pendinginan, hingga pemulihan dan pengelolaan lahan pascakebakaran.

 

Pendistribusian Air Bersih bagi Masyarakat Terdampak

 

Selain penanganan kebakaran dan pengelolaan lahan, sinergi lintas sektor juga diarahkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak. Salah satu bentuk kepedulian tersebut adalah pendistribusian air bersih menggunakan mobil water treatment kepada masyarakat di wilayah terdampak karhutla.

 

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih akibat dampak kebakaran maupun kondisi lingkungan sekitar. Distribusi air bersih diharapkan dapat mendukung kebutuhan sehari-hari masyarakat sekaligus memperkuat kehadiran pemerintah dan unsur terkait dalam memberikan bantuan secara langsung.

 

Melalui kegiatan tersebut, penanggulangan karhutla tidak hanya berorientasi pada aspek teknis pemadaman, tetapi juga memperhatikan keselamatan, kesehatan, dan kebutuhan masyarakat yang terdampak.

 

Mendorong Mitigasi Kebakaran Berkelanjutan

 

Melalui pendekatan teknologi Bios 44 Patigeni, penanganan karhutla diharapkan dapat diarahkan tidak hanya untuk mengatasi kebakaran yang sedang berlangsung, tetapi juga untuk mendukung pengelolaan tanah dan pencegahan kebakaran berulang.

BACA JUGA :   Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke 115 MI Nurul Ulum Gambuhan

 

Pada lahan gambut, pengelolaan kondisi tanah menjadi aspek penting karena karakteristiknya memerlukan penanganan yang berbeda dengan lahan mineral. Oleh karena itu, penerapan teknologi perlu dilakukan secara terpadu dengan pemantauan kondisi lahan, pengelolaan kelembapan, serta langkah-langkah pencegahan yang sesuai dengan karakteristik wilayah.

 

Penanggulangan karhutla bukan hanya persoalan memadamkan api, tetapi juga bagaimana menjaga kondisi tanah, memperbaiki lahan terdampak, memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, dan mencegah kebakaran berulang. Karena itu, kolaborasi TNI, Polri, pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci dalam mewujudkan penanganan karhutla yang terpadu dan berkelanjutan.

 

Sinergi tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas penanggulangan karhutla melalui integrasi pendekatan sosial, kelembagaan, dan teknologi, sekaligus mendorong pemanfaatan bahan baku lokal dan pengembangan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta keberlanjutan lingkungan.

 

Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, penanggulangan karhutla diharapkan dapat dilaksanakan secara lebih efektif, terukur, dan berkelanjutan, dengan mengedepankan keselamatan masyarakat, perlindungan lingkungan, serta pemanfaatan teknologi yang tepat guna.(Abdul Rais)

Shares

BACA JUGA

Satu Data Jabar Award 2024: Pemkab Bandung Raih Dua Penghargaan Festival Literasi Digital

Ade Darmansyah