DAERAH

Sistem Zonasi Tak Bertaji? SMAN 4 Solok Selatan Menjerit Akibat Sepinya Pendaftar Baru

Poros Indonesia.id Solok selatan — Alih-alih menjadi solusi pemerataan pendidikan, sistem penerimaan siswa berdasarkan domisili justru memunculkan dilema baru di SMAN 4 Solok Selatan. Sekolah yang terletak di daerah kawasan 1000 Rumah Gadang ini kini ‘merana’ karena jumlah pendaftar jauh dari harapan, meski secara hitungan zonasi seharusnya mereka kebanjiran calon siswa.

Kepala SMAN 4 Solok Selatan, Akmalu Rijal Putra, menyampaikan kegundahannya terkait realisasi penerimaan siswa baru tahun ajaran 2025. Ia mengaku bingung dan kecewa, sebab dari estimasi 250–300 calon siswa dari beberapa SMP dan MTs sekitar, yang datang mendaftar hanya segelintir. Jumlahnya hanya 84 orang saja, jadi ratusan calon siswa yang berdekatan dengan sekolah itu kemana larinya?

“Kami punya feeder sekolah yang cukup, tapi faktanya anak-anak tak datang ke sini. Ke mana mereka? Apakah sistem zonasi ini benar-benar berjalan atau hanya sebatas aturan di atas kertas?” ujar Akmalu dengan nada penuh kekecewaan.

Ia menduga ada praktik manipulasi domisili atau pembiaran terhadap pelanggaran sistem zonasi, sehingga siswa dari wilayah sekitar justru bersekolah di luar zona. Ini menjadi pukulan telak bagi sekolah-sekolah kecil yang sudah siap menerima murid sesuai aturan.

BACA JUGA :   Penambang di kolong Kenari lakukan bagi-bagi Sembako dan uang kemasyarakat RT 1 sampai  RT 17.

Tak hanya soal angka, kekurangan siswa juga berdampak pada pemanfaatan fasilitas dan dinamika pembelajaran. Akmalu menyebut guru-guru harus berjuang ekstra agar kualitas belajar-mengajar tetap terjaga, meski ruang kelas kosong melompong dan sarana belajar tak tergunakan maksimal.

“Kami punya ruang, punya tenaga pengajar, tapi muridnya di mana? Kalau sistem ini tidak ditegakkan, lalu bagaimana kami bisa berkembang dan bersaing secara sehat?”ujarnya.

Ia pun meminta Dinas Pendidikan Sumatera Barat untuk turun tangan menyelidiki praktik penerimaan siswa di sekolah-sekolah lain yang diduga tidak patuh pada sistem domisili. Akmalu menilai jika ini terus dibiarkan, maka keadilan dalam pendidikan hanya akan jadi jargon kosong.

“Kami bukan minta perlakuan istimewa, kami hanya ingin aturan ditegakkan. Jangan sampai sekolah-sekolah kecil seperti kami dimatikan secara perlahan hanya karena sistem yang tidak dijalankan dengan konsisten.” tegasnya.

Sistem zonasi sejatinya dibuat untuk mendekatkan akses pendidikan ke lingkungan tempat tinggal siswa, mengurangi biaya transportasi, dan meratakan kualitas pendidikan.

Namun, di lapangan, implementasinya justru memunculkan ironi. SMAN 4 Solok Selatan kini menjadi contoh nyata bagaimana idealisme sistem bisa runtuh karena lemahnya pengawasan.

BACA JUGA :   Buhir Koordinator Tambang TI Sebu di Sungai Desa Jada Bahrin, Disebut Dibekingi Aparat Desa

“Kami tidak punya gedung megah atau fasilitas canggih. Tapi semangat kami mendidik tidak kalah dari sekolah manapun. Yang kami butuhkan hanya keadilan,” pungkas Akmalu.

Bahkan untuk merekruk siswa baru, Kepala SMAN 4 tersebut menyediakan seragam gratis untuk 20 orang pendaftar pertama dan foucer Rp4 juta khusus bagi calon siswa baru yang juara 1-5 berturut-turut di SMP atau di MTs.

Akmalu Rijal juga mengutarakan akan menjadikan lingkungan belajar yang amannyaman dan menggembirakan sangat didambakan bagi seluruh warga sekolah terutama siswa/i.

“Insya Allah SMAN 4 Solok Selatan akan mewujudkan itu semua kedepannya sehingga mutu dan prestasi sekolah meningkat,” tuturnya.

Laporan Sudirman R Sumbar

Shares

BACA JUGA

Aditya Pratama Hermon Aktifis GMNI Kritik Kementrian:- Kebudayaan Dirasa Kurang Merangkul Pemuda

Ade Darmansyah